Merpati Kolongan Juara

Merpati kolongan merupakan salah satu macam perlombaan dalam hobi merpati tinggian, selain merpati kalangan yang menggunakan meja (patek) sebagai landasan merpati. Perbedaannya, lomba merpati kolongan tidak menggunakan patek. Aturan mainnya, dua ekor merpati diterbangkan bersama-sama dari titik start, menuju kalangan, masuk ring atas (ngolong), dan landing di atas area tanah yang telah ditentukan. Burung yang paling dahulu tiba di atas tanah adalah juaranya.

1Perlombaan merpati kolongan tidak menggunakan patek. Namun, pada perlombaan merpati kolongan ring atasnya lebih sempit jika dibandingkan dengan ukuran ring atas pada merpati kalangan yang menggunakan patek. Ring atas ini berbentuk segi empat yang lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan garis segi empat antar tiang. Hal ini sangat sulit. Tidak semua merpati tinggian mampu melakukannya karena burung harus bisa terbang tinggi, turun dari arah jam 12 atau loncat. Hanya burung tinggian asli yang mampu melakukan setiap rintangan lomba. Bagi penggemar merpati kolongan, ini merupakan ilmu tingkat tinggi, memiliki nilai seni tersendiri.

Pada artikel ini, saya mencoba menuliskan pengetahuan dan pengalaman saya tentang merpati tinggian untuk lomba kolongan. Bukannya saya sok tahu, namun saya berharap saya bisa sharing ilmu dan pengalaman sehingga memberikan manfaat pada semua penggemar burung merpati kolongan.

Pada prinsipnya, lomba burung merpati kolongan mengharuskan burung untuk bisa terbang dari start menuju kalangan, turun, masuk ring atas, dan landing secepat mungkin di tanah. Ketiga syarat itu sangatlah berat karena burung tidak cukup sekali terbang, bahkan berkali-kali, berhari-hari, mulai hari latihan sampai hari H lomba. Juga tidak semua merpati bisa turun dari ketinggian yang amat sangat. Selain itu, masuk ring atas juga pekerjaan yang teramat sulit karena burung harus terbang sangat tinggi atau ia mampu meloncati ring dengan selamat.

Kesimpulannya, tidak semua burung merpati tinggian mampu melakukan rintangan-rintangan lomba kolongan. Malahan, sebagian besar burung merpati tinggian yang biasa kita latih hanya mampu terbang tapi tidak masuk ring atas. Atau, bisa jadi dia bisa masuk ring atas tapi landingnya tidak mulus, jatuh di stand panitia lomba, menclok di warung kopi, dan lain-lain.  Yang lebih parah lagi, burung kita malah hilang, ga pernah nyampe ke kalang hehehehe… Hanya beberapa saja yang bisa, yaitu burung super yang jadi juara.

Untuk mempermudah pembaca memahami topik ini, saya menjelaskan ciri merpati kolongan juara berdasarkan prinsip rintangan-rintangan pada lomba merpati kolongan yang telah saya sebutkan di atas.

Rintangan 1: Burung harus mampu terbang dari start menuju kalangan

Tidak semua merpati mampu terbang dari start menuju kalangan. Juga tidak semua merpati mampu terbang dari start menuju kalangan berkali-kali dan berhari-hari. Padahal, burung yang tidak mampu melakukan rintangan 1 ini semuanya sehat/ fit. Di sisi lain, ada sebagian merpati yang mampu melakukannya dengan baik. Ia mampu terbang dari start menuju kalangan berkali-kali dan berhari-hari, mulai hari latihan sampai hari lomba dengan konsisten. Bahkan, ada burung yang mampu terbang sangat sangat super jauh (contohnya merpati pos). Kesimpulannya, kemampuan burung merpati untuk bisa terbang berbeda-beda dengan jarak yang berbeda-beda pula. Jadi, apa yang membedakannya?

Penjelasan saya di bawah ini akan menjawab masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di benak para penggemar merpati kolongan, seperti:

Mengapa ketika latihan, burung kerjanya bagus tetapi waktu lomba bisa ngedrop, langsung kalah? Mengapa ada burung yang bisa nyampe kalang terus ada burung yang mogok/menclok di tengah jalan? Mengapa merpati pos bisa terbang dengan jarak super jauh? Mengapa kinerja burung saya cenderung tidak konsisten, kadang bagus kadang enggak? Burung saya kencang/ ngejoss/ ngedor dari jarak pendek, kenapa jadi pelan ketika terbang dari start? Mengapa burung saya bisa salah arah ketika terbang, terus hilang? Kadang ada burung yang senang terbang di sekitar kandang?

Menurut pengalaman saya, merpati yang sanggup melampaui rintangan 1 adalah burung yang memiliki bulu yang kering. Bulu yang super adalah bulu yang kering dan halus seperti sutera. Bulu adalah faktor yang paling penting bagi merpati tinggian. Yang saya maksud adalah jenis bulunya yang kering, bukan warna bulu. Bagi saya, warna bulu hanya mempengaruhi penampilan, bukan kinerja.

Logikanya, bulu yang kering lebih ringan daripada bulu yang basah, juga lebih kuat, lebih kaku, lebih keras karena lebih banyak mengandung zat kapur. Dengan memiliki bulu yang kering, merpati dapat mengeluarkan energinya dengan efesien. Ia dapat terbang dari start menuju kalangan dengan menghabiskan tenaga yang sangat minimal sehingga ia selalu siap dan konsisten untuk terbangan kedua, ketiga dan seterusnya. Ini bukan masalah jumlah energi, tetapi efesiensi energi.

Yang saya ketahui, bulu burung yang kering memiliki beberapa ciri. Untuk mengidentifikasi jenis bulu, sobat dapat menggunakan salah satu indikator. Diantaranya adalah hidung yang putih, tanpa warna merah/ pink. Jika burung berada jauh (di atas genteng rumah misalnya), kita masih masih sangat bisa melihat hidungnya yang putih itu. Semakin warna putihnya lebar/ luas, kemungkinan besar burung memiliki bulu yang sangat kering. Bulu burung yang keringnya maksimal tidak memantulkan cahaya (warnanya dove). Selain itu, bulu burung yang kering dapat diidentifikasi lewat kaki dan paruh. Burung yang memiliki kaki dan paruh kering (tidak mengkilap), kemungkinan besar memiliki bulu yang kering. Sebaliknya, kaki dan paruh yang mengkilap kemungkinan tingkat kekeringan bulunya diragukan.

Bagi sobat yang lebih berpengalaman, bulu burung merpati yang kering dapat diidentifikasi lewat rabaan tangan. Jika kita raba bulu yang ada dileher, punggung, sampai buntut dengan perlahan, maka tangan kita akan meluncur dengan lancar. Berbeda dengan bulu burung yang basah atau keringnya tidak maksimal. Ketika merabanya, tangan kita akan tersendat dan relatif tidak lancar.

Selain bulu harus kering, pilihlah burung yang berbulu tebal karena burung jenis ini dapat sangat menghemat energinya ketika terbang. Malahan, mereka senang terbang, tidak hanya di tempat lomba, di kandang pun mereka akan sering terbang sendiri.

merpati 6Kedua, merpati yang sanggup melampaui rintangan 1 adalah burung yang memiliki sayap yang panjang dan lebar. Logikanya, sayap yang panjang dan lebar mempermudah burung untuk terbang serta dapat menghemat energi. Contoh burung lain yang memilikinya adalah camar dan kapinis (walet). Hidari burung merpati yang memiliki sayap pendek (cebol) karena burung ini akan terbang seperti burung gereja atau burung pipit karena mereka terbang dengan ketinggian yang tidak konsisten (seperti piyik terbang)… Untuk mengukur panjang dan lebar yang optimal pada sayap merpati tinggian, kita dapat melihat dan membandingkan ujung sayap dengan ujung bulu ekor. Pilihlah burung yang memiliki sayap sama atau sangat dekat dengan bulu ekor. Contoh seperti gambar di samping.

merpati 11Ketiga, merpati yang sanggup melampaui rintangan 1 adalah burung yang memiliki alis mata yang tebal. Ketika merpati terbang, ia harus mempunyai bemper depan yang bagus untuk melindungi matanya dari angin dari arah depan (seperti gambar di samping).

Kendala terbesar bagi mata merpati tinggian adalah angin. Jika mata merpati terlalu keluar atau tidak memiliki alis depan yang tebal, maka seperti halnya kita naik motor berkecepatan tinggi tanpa memakai kacamata atau helm tertutup. Apa yang terjadi? Mata kita tidak kuat, merem, dan berair. Di burung pun sama, ia bisa saja hilang arah terbang atau gak kuat terbang lama-lama karena matanya dah ga kuat lagi digesek angin dari arah depan.

Seekor merpati juara harus memiliki bulu yang kering, sayap yang panjang/lebar, dan alis mata yang tebal karena inilah yang membuat burung dapat terbang dari start sampai kalang, kemudian terbang lagi, dan terbang lagi tanpa harus menclok atau mogok ditengah jalan. Karena bulu yang kering dan sayap yang panjang/lebar inilah seekor burung juara bekerja dengan efesiensi energi dan secara konsisten dari pertama giring (hari Rabu), ketika latihan, dan ketika diadu (Sabtu, Minggu) dan konsisten bekerja dari pagi hingga sore. Sebaliknya, burung yang memiliki bulu basah yang parah tidak dapat terbang dari start sampai kalang, kadang mogok ditengah jalan, bahkan hilang. Sedangkan bulu yang agak basah (keringnya tidak maksimal) membuat seekor burung bekerja dengan tidak konsisten. Misalnya pagi bekerja dengan bagus, tapi sore malah jelek. Atau misal dari pertama giring (hari Rabu), ketika latihan sampai hari Jumat, burung bekerja dengan baik. Akan tetapi  ketika diadu (Sabtu, Minggu) malah menclok, atau ga masuk ring atas, atau ga masuk ring bawah, atau malah ngeloyor ke warung kopi hehehe ….

Rintangan 2: Burung harus mampu terbang tinggi

Pada lomba merpati kolongan, burung harus bisa masuk ring atas. Untuk dapat melakukannya, burung harus mampu terbang tinggi atau loncati sisi ring. Padahal, setiap merpati memiliki kemampuan terbang dengan ketinggian yang berbeda-beda. Tidak semua merpati sanggup terbang tinggi (contohnya merpati balap).

Menurut pengalaman saya, hal ini dipengaruhi oleh bentuk dan struktur sayap. Sayap adalah organ yang sangat penting bagi semua unggas, termasuk merpati. Bulu-bulu sayap yang kaku, ukuran sayap yang sangat cembung, lebar, dan panjang membuat merpati dapat terbang tinggi, malahan sangat tinggi.

merpati 3Sayap adalah organ yang sangat penting bagi semua unggas, termasuk merpati. Bulu-bulu sayap yang kaku, ukuran sayap yang cembung, lebar, dan panjang membuat merpati dapat terbang tinggi, malahan sangat tinggi. Sayap burung merpati tinggian yang baik di antaranya adalah memiliki bentuk yang cembung. Jika kita rentangkan sayapnya, maka bulu-bulu sayap membentuk cekungan/ cembungan. Semakin cembung sayap burung tersebut, saya dapat menjamin, semakin tinggi burung tersebut terbang di angkasa. Cekungan/ cembungan ini adalah ukuran untuk mengetahui seberapa tinggi ia dapat terbang.

Kemudian, tiap helai bulu sayap harus yang kaku. Bulu-bulu yang kaku (Sunda: heuras) membantu si burung dalam mengoptimalkan energi ketika ia terbang. Berbeda dengan burung yang memiliki bulu yang lentur mirip anakan (piyik). Dia akan terbang dengan ketinggian yang tidak konsisten tergantung energi yang masih ia punyai.

Rintangan 3: Burung harus mampu turun dari ketinggian

Di lapangan, ada burung merpati yang sanggup terbang tinggi tetapi tidak bisa turun langsung menukik ke bawah. Ada pula burung yang menukik membentuk garis spiral (kayak obat nyamuk bakar hehehee ….) dan akhirnya muncul dari arah belakang joki. Di sisi lain, merpati juara mampu turun dari ketinggian, menukik langsung menuju betina.

Menurut pengalaman saya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan burung untuk menukik turun dari ketinggian. Di antaranya adalah bentuk badan, mata, dan paruh.

Badan merpati tinggian yang mampu menukik turun dari ketinggian biasanya kenyal atau empuk. Burung berbadan kenyal akan lebih cepat dari pada burung berbadan empuk. Namun, burung berbadan empuk lebih mudah mengendalikan dirinya dalam manuver ketika turun, khususnya ketika ia turun arah jam 12. Ketika kita pegang, bahu sayap (lengan sayap) harus rapat ke badan karena jenis seperti ini akan turun dengan relatif lebih cepat karena bentuk badan seperti ini aerodinamis, sangat minimal melawan angin. Berbeda dengan burung yang jika kita pegang bahu sayapnya menonjol ke luar/ ke depan. Walaupun punya shut/ joss yang bagus tapi jenis seperti ini cenderung lambat ketika sampai betina karena ketika ia turun sayapnya cenderung terbuka dan melawan angin. Maklum, jenis seperti ini menggunakan sayapnya untuk rem.

Kedua, burung yang mampu turun dari ketinggian adalah burung yang memiliki mata yang bagus. Untuk hal mata merpati, ini adalah hal yang tersulit. Beberapa pakar mengatakan bahwa jenis mata sangat mempengaruhi kemampuan seekor burung merpati untuk turun dari ketinggian yang amat sangat. Seperti kita tahu bahwa jenis mata ada yang kuning, merah, putih, hitam, dll. Mereka bilang bahwa bola mata sangat erat menentukan bagaimana si burung tersebut terbang ke target dengan cepat. Pada umumnya bola mata yang baik pada merpati haruslah responsif terhadap cahaya. Untuk mengujinya bila terkena paparan sinar matahari maka pupil harus mengecil.

Tetapi suatu ketika saya punya sobat yang biasa melatih merpati tinggiannya bersama saya. Merpati punya dia memiliki dua lingkaran hitam pada bola matanya yang pecah. Sepintas lingkaran hitam tersebut seperti menetes hehehe… Semua orang memperoloknya (tidak terkecuali saya). Namun tidak disangka, merpatinya itu benar-benar tinggian dan dahsyatnya lagi dia mampu turun dari ketinggian yang amat sangat.

Setelah saya bereksperimen selama belasan tahun saya menyimpulkan ternyata bukan jenis matanya yang menentukan merpati dapat turun dari ketinggian yang amat sangat akan tetapi dari posisi matanya (asalkan matanya tidak cacat, katarak). Posisi mata harus berada jauh di dalam sehingga mata benar-benar terlindungi dari angin. Bagi saya, posisi mata inilah yang dapat menjadi ukuran seberapa tinggi burung merpati saya mampu turun. Ingat, kendala terbesar bagi mata merpati tinggian adalah angin. Jika mata merpati terlalu keluar, bisa saja dia ga jadi turun karena matanya dah ga karuan pedih digesek angin.

Namun, situasi akan berbeda ketika merpati sedang turun menukik. Angin bukan hanya datang dari arah depan. Merpati harus punya bemper depan, atas, belakang yang dapat melindungi matanya karena angin datang dari arah depan dan samping. Untuk mengidentifikasi bemper depan, atas dan belakang ini, biasanya saya melihat mata burung dari arah depan, atas, dan belakang kepala. Burung yang bisa turun dari ketinggian super atas adalah burung yang memiliki posisi bola matanya sangat dalam sehingga ketika saya melihat matanya dari depan, atas, dan belakang kepalanya, matanya tersebut benar-benar tidak kelihatan. Kasarnya, mata merpati yang baik harus dikelilingi oleh bemper yang dapat melindunginya dari angin dari berbagai arah.

merpati 17Ketiga, burung yang mampu turun dari ketinggian adalah burung yang memiliki paruh yang ramping. Paruh dan kuku merupakan simbol struktur tulang secara keseluruhan. Pilih burung yang memiliki paruh ramping, otomatis kuku jari kakinya pun akan relatif panjang karena lomba merpati tinggian adalah adu ketangkasan, bukan seperti adu ayam. Disini tidak perlu tulang yang besar dan tebal, tapi yang kita perlukan adalah yang proporsional. Contoh paruh yang ramping adalah mirip burung ocehan.

Rintangan 4: Burung harus mampu masuk ring atas

Ada dua jenis burung yang mampu masuk ring atas, yaitu burung yang mampu turun dari arah jam 12 dan burung yang mampu loncat.

Burung yang mampu turun dari arah jam 12 memiliki ciri paruh ramping, badan kenyal/ empuk, sayap rapat ke badan, posisi mata bagus/mata terlindungi dari angin, dan memiliki kaki yang panjang.

Burung merpati tinggian yang bagus memiliki kaki yang panjang. Kaki disini berfungsi untuk membantu ekor (kemudi) dalam koordinasi, mengendalikan badan burung ketika menukik dan landing. Intinya, kaki membantu kemudi agar berfungsi dengan sempurna, tidak keluar jalur, tidak nabrak trotoar.

Panjang atau pendeknya kaki burung dapat dilihat secara kasat mata. Atau, anda dapat mengetahuinya dengan cara memegang merpati anda seperti biasa. Kaki yang panjang bisa sejajar dengan ujung sayap atau bahkan jari-jari kakinya menerobos di antara bulu-bulu ekor. Hati-hati, burung seperti ini mampu turun vertikal (arah jam 12) walau pun badannya panjang.

merpati 5Sedangkan burung yang mampu loncat garis dan masuk ring atas adalah burung yang memiliki sayap yang bagus. Bulu-bulu sayap yang kaku, ukuran sayap yang cembung, lebar, dan panjang membuat merpati aman di ring atas. Logikanya, sayap seperti ini makan angin. Artinya, semakin bertubrukan dengan angin semakin tegak posisi si burung. Bukannya, ia gak mau langsung buru-buru ke betina tapi dia ga bisa melakukan itu dikarenakan bentuk sayapnya tersebut. Maka, ia memilih untuk memotong angin, turun dari arah jam 12. Dengan posisi sayap rapat ke badan, angin tidak akan menjadi kendala baginya untuk segera menghampiri sang isteri di tangan joki.

Logikanya, sayap yang panjang dan lebar mempermudah burung untuk terbang serta dapat menghemat energi. Contoh burung lain yang memilikinya adalah camar dan kapinis (walet). Kedua jenis burung ini sangat ringan dan mumpuni ketika terbang.

Untuk mengukur panjang dan lebar yang optimal pada sayap merpati tinggian, kita dapat melihat dan membandingkan ujung sayap dengan ujung bulu ekor. Pilihlah burung yang memiliki sayap sama atau sangat dekat dengan bulu ekor. Kesimpulannya, jika ujung sayapnya sama dengan ujung bulu ekornya, maka burung tersebut tidak akan pernah gagal loncati ring. Bahkan, ia akan senantiasa loncat. Pokoknya ring atas aman.

Rintangan 5: Burung harus mampu landing secepat mungkin di tanah

Kata kunci dari rintangan kelima adalah landing sedekat mungkin dengan betina dan secepat mungkin. Pertama, kecepatan burung merpati dipengaruhi oleh besar/ kecil atau tebal/ tipisnya tulang rangka. Sebagian pakar menyebutkan cepat dan lambatnya merpati terletak pada tulang. Saya pun setuju. Namun, burung merpati tinggian yang bagus memiliki struktur tulang yang proporsional, tidak terlalu tebal tidak pula terlalu tipis.

Struktur tulang yang proporsional dapat kita identifikasi ketika burung kita pegang dan lihat dari arah depan. Ujung depan tulang dada tidak lebih bawah dari ujung sayap. Ini menandakan bahwa tulang burung tersebut terlalu besar. Burung seperti ini pasti super cepat tapi belum tentu bagus karena faktor lain (organ lain) harus sesuai seperti bulu, sayap, dll. Selain itu, jangan sampai bulu dan sayapnya tidak mampu membawa bobot tulang badannya terbang. Sebaliknya, jangan memilih burung yang jika dipegang ujung depan tulang dada tidak lebih atas dari ujung sayap. Ini menandakan bahwa tulang burung tersebut terlalu tipis. Merpati bertulang tipis akan terbang seperti kupu-kupu, terlalu ringan.

Maka dari itu, pilih burung yang memiliki struktur tulang yang proporsional yaitu jika tampak depan, sayap kiri, ujung bawah tulang dada, dan sayap kanan terlihat rata membentuk garis horizontal. Selain itu, pilihlah tulang dada bawah yang panjang sehingga jarak ujungnya sangat dekat dengan tulang capit hurang. Burung seperti ini memiliki shoot yang panjang, bahkan bisa beberapa kali.

Tidak semua burung merpati mampu landing dekat betinanya. Apalagi bagi merpati yang memiliki kecepatan tinggi, hal ini akan sulit ia lakukan dengan baik. Hal ini dipengaruhi oleh kualitas kemudi (ekor) dan kaki (koordinasi).

marpati 10Bagi merpati dan unggas lain yang suka terbang, ekor adalah kemudi. Selain itu, jenis ekor menentukan gaya ketika merpati turun. Ekor yang bagus bagi merpati tinggian adalah ekor yang rata. Yang paling bagus adalah ekor yang sangat rata kayak digunting aja karena ekor jenis ini menghasilkan garis yang sangat lurus ketika burung turun, tidak zig-zag. Logikanya, garis lurus akan lebih pendek dari pada garis yang zig-zag. Selain itu, ekor yang sangat rata ini menjamin burung tidak bakalan jauh-jauh dari betina, tidak mungkin meleset. Selain itu perlu diperhatikan pangkal ekor harus kaku, tidak loncer.

velntono-rossi-andrea-doviziosoBurung merpati tinggian yang mampu landing dekat betinanya harus memiliki kaki yang panjang. Kaki disini berfungsi untuk membantu ekor (kemudi) dalam koordinasi, mengendalikan badan burung ketika landing. Layaknya Rossi dan Dovisioso dalam foto di samping ini.  

Semakin cepat burung terbang, semakin baik pula ekor dan kakinya sehingga proporsional. Jadi, landingnya gak jauh-jauh sama betina.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *